Buku ini, menyajikan tentang kisah heroik dari para pejuang Cabang dan Ranting Muhammadiyah pilihan yang ada di bumi nusantara ini. Untuk Cabang, kisah bisa menyimak perjuangan dari Cabang Sukajadi di Kota Bandung, Cabang Krembangan di Kota Surabaya, dan Cabang Tallo di Kota Makasar. Untuk Ranting, kita bisa meneladani perjuangan para aktivis Muhammadiyah dari Nitikan di Kota Yogyakarta, Ranting Plompong di Brebes, Ranting Longkeyang di Pemalang, Ranting Tamanagung I di Kabupaten Magelang, Ranting Gondrong di Kota Tangerang, Ranting Bukit Pariaman di Kuta Kartanegara, dan Ranting Muhajirin di Banjarmasin.Cerita dan sejarah mereka dalam mempertahankan Muhammadiyah di akar rumput patut diacungkan jempol. Sekali lagi, mereka adalah sosok-sosok yang luar biasa dahsyat. Kita wajib meneladaninya untuk generasi selanjutnya. Semoga buku ini memberi inspirasi dan energi baru bagi Cabang dan Ranting yang lain di bumi pertiwi ini.
KISAH TENTANG LONGKEYANG
Ranting Muhammadiyah Desa Longkeyang berdiri sekitar tahun 1975-an. Saat ini, anggota dan simpatisan Muhammadiyah sekitar 30 Kepala Keluarga (KK). Walaupun sudah berdiri hampir 30 tahun, Ranting Longkeyang belum memiliki AUM di bidang sosial. Prestasi yang bisa diukir selama 30 tahun hanya mempunyai TPQ Al-Manar yang tempatnya hanya menumpang di masjid desa serta memiliki aset berupa tanah seluas kurang lebih 1.000 M².
Ranting Longkeyang termasuk salah satu Ranting teraktif. Setiap ada kegiatan, pimpinan baik di Cabang maupun Daerah selalu mendapat peran. Hanya saja kiprahnya didominasi orang-orang dari generasi tua. Program pengkaderan dan regenerasi tidak berjalan dengan baik. Satu-satunya kegiatan rutin yang menandakan masih adanya PRM Longkeyang adalah pengajian rutin bulanan yang dibina oleh PCM Bodeh. Walaupun berjalan rutin, kegiatan ini dapat dikatakan sebagai rutinitas alakadarnya. Kemasan kegiatannya kurang menarik dan gagal menggerakan anak-anak mudanya untuk bisa terlibat dalam Muhammadiyah.
Orang-orang di luar Muhammadiyah sering meledek kalau umur Muhammadiyah Longkeyang tinggal menunggu hari. Kalau semua generasi perintis itu wafat, maka tamat pula sejarah Muhammadiyah di Longkeyang. Saat ini, usia mayoritas generasi perintis dapat dikatakan itu sudah menjelang senja, selebihnya berusia Ashar. Ledekan-ledekan semacam ini terasa sangat menyakitkan, apalagi kalau pada kenyataannya mayoritas anak muda dari keluarga Muhammadiyah sendiri banyak yang tidak tertarik apalagi bersedia memenuhi panggilan suci untuk aktif di Muhammadiyah.
Muhammadiyah bagi sebagian orang Longkeyang adalah organisasi yang unik, banyak yang bilang kalau belum kenal Muhammadiyah pasti akan enggan bergabung, bahkan tidak jarang mereka berfikir negatif atau bahkan menjelek-jelekan dengan berbagai stigma. Namun, bagi yang kenal, lebih-lebih memahami dan mendalaminya, biasanya akan mengalami semangat dan cinta terhadap Muhammadiyah yang luar biasa.
Rasa cinta yang luar biasa terhadap Muhammadiyah masih tetap ada di hati sebagaian anak-anak muda Muhammadiyah Longkeyang. Anak-anak muda merasa sakit hati yang luar biasa setiap kali mendengar ejekan bernada buruk terhadap Muhammadiyah. Atas nama cinta dan tidak terima kalau Muhammadiyah hilang begitu saja dari Desa Longkeyang bersamaan dengan wafatnya para perintis, anak-anak muda ini mencanangkan keinginan yang sederhana yaitu, hanya ingin seluruh warga dan simpatisan di Ranting Muhammadiyah bangga bermuhammadiyah dan menjadi bagian dari Muhammadiyah itu saja. Tidak berlebihan bukan?. Bagi anak-anak muda Muhammadiyah, kalau kita tidak bangga bermuhammadiyah apa lagi orang lain?.
KEBANGGAAN ITU DIMULAI DARI BP2RM
Di mulai pada tahun 2006, anak-anak muda Muhammadiyah di Ranting Longkeyang bersama dengan para aktivis AMM merintis sebuah ikhtiar baru yaitu dengan membuat lembaga yang saat itu belum ada namanya, yang kemudian pada tahun 2000 dinamai Badan Pekerja Pengembangan Ranting Muhammadiyah (BP2RM), dengan tiga tugas pokok:
1. Mengkaji sejarah, potensi, masalah, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan maju dan mundurnya Muhammadiyah di Ranting yang sudah kurang lebih 30 tahun berdiri ini.
2. Memproyeksikan program strategis pengembangan Ranting berdasarkan pemahaman mereka atas sejarah, potensi, masalah, dan lain sebagainya sehingga muncul program yang original, unik sesuai dengan potensi serta visioner.
3. Melaksanakan program secara bersama-sama dengan pimpinan Ranting dan mengevaluasinya secara sederhana, periodik, dan berkelanjutan.
Pada awalnya, gerakan ini hanya kurang lebih 10 orang dari anak muda Muhammadiyah yang mau bergabung. Padahal warga Muhammadiyah di Longkeyang kurang lebih berjumlah 30 KK. Pada mulanya, gerakan ini tidak melibatkan struktur pimpinan Ranting apalagi struktur pimpinan diatasnya. Mereka betul-betul mandiri dalam segala hal baik konsep maupun pendanaannya. Karena kalau anak-anak muda tersebut mengajak generasi tua maupun pimpinan persyarikatan, hampir dapat dipastikan tidak mendapat respon positif karena memang tidak nyambung komunikasinya. Pada masa awal itu, bahkan sebagian pimpinan Muhammadiyah ada yang mencibir. Kalangan orang tua pesimis, pada gagasan anak-anak muda ini.
Di tengah rasa ketidakpercayaan orang tua berbalut pesimis itu, pelan tapi pasti anak-anak muda itu terus melangkah secara konsisten. Saat itu, gerakan yang dilakukan adalah menggalang iuran abadi bagi AMM Longkeyang dan sedekah abadi bagi alumni ORTOM (organisasi otonom Muhammadiyah seperti IPM,IMM) di luar Longkeyang yang mendukung gerakan ini, yang nantinya mereka menjadi pendamping/pembina BP2RM. Efisiensi setiap keping/kertas uang yang masuk ke persyarikatan juga dilakukan. Setiap bulan Ramadhan, TPQ Al-Manar biasa mendapat dana bisaroh dari Pemda Pemalang sebesar Rp. 650.000,00 per tahun untuk para ustadz/ustadzahnya. Para ustadz/ustadzahnya dari AMM (Angkatan Muda Muhammadiya, seperti IPM, IMM, NA dan Pemuda Muhammadiyah) hanya mau menerima sebagian kecil dari dana bantuan itu. Selebihnya di atas Rp. 500.000,00, dijadikan dana abadi untuk membeli tanah milik Ranting.
MEMILIKI ASET POHON DAN TANAH YANG LUAS
Bersamaan dengan itu, anak-anak muda juga memulai gerakan wakaf pohon bagi warga/simpatisan dan mengelola aset wakaf tanah seluas 1000 M² milik Ranting yang selama ini terbengkalai dan tidak terurus yaitu dengan menanamnya pohon Albasia dan Cengkeh. Setelah berjalan tiga tahun, (pada bulan Desember 2009) gerakan iuran abadi dari AMM Desa Longkeyang yang mukim dan merantau, juga gerakan sedekah abadi dari alumni Ortom yang mendukung gerakan BP2RM Longkeyang dari luar desa, ternyata cukup untuk membeli tanah wakaf pada titik kedua. Pada awal tahun 2010, PRM Longkeyang kembali bisa membeli tanah wakaf pada titik ketiga dari hasil gerakan iuran abadi dan sebagian dari hasil penjualan wakaf pohon Albasia dari warga.
Setelah ada prestasi yang terlihat nyata itu, hampir semua pimpinan, warga, dan juga simpatisan percaya dan mendukung gerakan dari anak-anak muda Muhammadiyah ini. Pada tanggal 24 Februari 2010, lembaga yang mewadahi anak-anak muda ini, secara resmi dinamai dengan “ Badan Pekerja Pengembangan Ranting Muhammadiyah ” yang disingkat BP2RM. Sesudah resmi dibentuk, BP2RM dan sistem gerakannya juga telah disempurnakan. Semua warga Muhammadiyah Longkeyang semakin termotivasi untuk bangkit. Semua semakin semangat dan kompak untuk membangun aset wakaf produktif atau AUM Wakaf produktif.
Pada awal tahun 2011, BP2RM Longkeyang mampu membeli tanah lagi yang keempat dan juga pada pertengahan tahun 2011 membeli lagi tanah yang titik kelima serta ada seorang sesepuh (pendiri) Ranting mewakafkan tanahnya untuk Ranting Muhammadiyah Longkeyang. Pada tanggal 26 Maret 2012, Ranting Longkeyang membeli satu titik tanah lagi meskipun sedikit yang berdekatan dengan tanah milik Ranting Longkeyang lainnya.
Hingga sampai tahun 2012, Ranting Longkeyang sudah mempunyai 7 titik tanah wakaf yang luasnya lebih 9.000 M² (hampir satu hektar) tanah wakaf produktif, yang diperoleh dengan cara membeli dari hasil gerakan wakaf uang, wakaf pohon, efisiensi dana yang masuk ke persyarikatan dan dari hasil pengelolaan aset wakaf produktif yang ada. Sedang aset yang lain berupa 3 batang pohon cengkeh umur 12 tahun, 12 batang pohon cengkeh umur 8 tahun, 80 batang pohon Albasia umur 4,5 tahun, 150 batang Albasia umur 5 tahun, dan 50 batang pohon Jabon umur 2 tahun serta aset wakaf uang tunainya lebih dari Rp 2,5 juta rupiah.
Adapun program untuk pengembangan sumber daya kader, PRM Longkeyang baru mampu mengusahakan beasiswa penuh dengan mencarikan lembaga yang mau menampung dan membiayainya sebanyak 6 anak. Satu anak di SMA, satu anak di SMP, dan empat anak di SD dari warga/simpatisan yang kurang mampu.
Setelah BP2RM Desa Longkeyang mampu mengembangkan aset wakaf produktif yang dimilikinya dan mampu menciptakan aset wakaf produktif lainnya (wakaf pohon dan wakaf uang) seperti di atas, dampaknya bisa langsung dirasakan oleh persyarikatan, yaitu :
1. Mempunyai aset ekonomi produktif abadi (AUM Wakaf Produktif) dalam bentuk benda tidak bergerak (tanah dan pohon) dan benda bergerak (uang).
2. Kader AMM menjadi lebih bersemangat, solid, dan bangga bermuhammadiyah, serta mempunyai kemauan yang kuat menjadi pimpinan dan memajukan persyarikatan, dengan semakin semangat dalam gerakan wakaf produktif dan kegiatan persyarikatan di rantingnya. Selaras dengan itu, warga dan simpatisan Muhammadiyah juga menjadi semakin semangat dalam berkegiatan dan percaya diri sebagai anggota/simpatisan Muhammadiyah di tengah masyarakat yang majemuk yang ada di desanya.
Demikian cerita dari Ranting Muhammadiyah Longkeyang, bahwa berawal dari ejekan masyarakat terhadap kondisi Muhammadiyah yang kurang progresif, berbalik menjadi semangat dan bangga bermuhammadiyah hingga detik ini dan selamanya.
(Ditulis ulang oleh admin www.WakafProduktifMuhammadiyah.Com pada tanggal 18 Januari 2014 jam 11.00 selesai).


0 komentar:
Posting Komentar