Gerakan Muhammadiyah selama satu abad ini di Indonesia secara umum yang sudah dan sedang berjalan, kalau diibarat seperti orang naik sepeda motor langsung masuk gigi tiga. Pada umumnya setiap ada ranting dan cabang yang baru berdiri biasanya langsung mendirikan amal usaha yang bersifat sosial seperti : sekolah, pondok pesantren, balai pengobatan, panti asuhan dan sebagainya. Setelah itu kelanjutannya dan perkembangannya dari amal usaha tersebut ada 3 (tiga) kemungkinan yaitu ; (1) maju sesuai yang diharapkan, (2) hidup tetapi stagnan sebab maju tidak bisa mati tidak mau dan (3) gulung tikar alias mati.
Pola gerakan seperti diatas dalam era sekarang kalau kita amati dan lihat faktanya kita hanya bisa melahirkan amal usaha Muhammadiyah dalam hal “ kuantitas” banyak sekali tetapi dalam hal “kualitas” sangat sedikit sekali. Karena amal usaha tersebut sarat dengan banyak kelemahan dan problem serta tidak mampu menyesuaikan perubahan zaman dan kalah bersaingan dengan para kompetitor di sekitarnya.
Maka pola gerakan seperti ini kalau tetap di pertahankan dan di lakukan untuk tetap bertahan hidup saja sangat berat, apalagi kalau berharap supaya amal usaha Muhammadiyah supaya mandiri, maju dan unggul sepertinya hanya mimpi belaka. Saya khawatir perkembangan Muhammadiyah ke depan bukannya semakin baik dan membesar tetapi malah sebaliknya semakin tidak sehat dan mengecil.
Untuk itu Muhammadiyah memasuki usianya abad ke-2 harus melakukan intropeksi diri dan evaluasi diri secara mendasar, menyeluruh dan harus sungguh-sungguh yaitu harus mampu “menyempurnakan pola gerakannya” kalau istilah sekarang namanya “merevitalisasi” sehingga ke depan supaya Muhammadiyah tetap eksis, berkembang, mandiri, maju dan unggul.
Menyempurnakan pola gerakan Muhammadiyah ke depan diharapkan sebagai ikhtiar yang sungguh-sungguh dan sistemik serta melibatkan semua komponen persyarikatan secara aktif supaya amal usaha yang ada mampu menyesuaikan tuntutan zaman dan menang dalam bersaing dengan para kompetitor serta mampu berperan secara optimal sebagai rahmatallil’alamin khususnya di Indonesia.
Penulis : Casroni Raska



0 komentar:
Posting Komentar